Pages

Sudut Pandang dan Prasangka Baik

Kamis, 21 September 2017



Pernah gak sih ngejudge orang?


Pernah gak sih kamu marah sama orang gara-gara jalannya lambat dan ngalangin jalan kamu? Pernah gak bete sama orang yang kamu chat berkali-kali tapi gak dibales, kamu telfon-telfon gak diangkat? Marah sama anak-anak di grup yang cuma nge-read dan gak respon chat kamu? Marah sama temen yang udah janjian ketemu malah tiba-tiba ngilang gak ada kabar dan datang telat? Marah sama orang yang markirin motor terlalu dekat sama motor kamu dan bikin kamu jadi kesusahan ngeluarin motor? Dan marah-marah yang sejenis dengan yang udah disebutin.


Tapi pernah gak coba memposisikan diri di posisi mereka?


Siapa tau dia jalannya lambat karena emang langkahnya kecil dan gak terbiasa jalan cepat, dan dia gak tau kalo kamu di belakang dia. Siapa tau dia gak bales karena dia lagi gak ada kuota, siapa tau dia gak ngangkat karena lagi shalat atau lagi ngerjain hal lain dan away dari hp. Siapa tau anak-anak di grup baru ngeread dan lagi mikir mau bales apa, atau mereka ngeread trus lupa ngebales karena tiba-tiba harus ngerjain hal lain dan narok hp nya trus lupa, atau mereka bingung dan akhirnya gak bales. Siapa tau temen yang janjian sama kamu hp nya mati di jalan trus dia kena macet atau ban motor/mobilnya bocor. Siapa tau orang yang markirin motor terlalu dekat sama kamu lagi buru-buru dan gak sengaja markirinnya terlalu deket, atau dia emang baru belajar bawa motor dan gak ngerti cara yang bener untuk parkir. Siapa tau kan? Mereka gak bermaksud kayak gitu, beneran gak tau atau terpaksa kayak gitu. Who knows . . .


Karena kamu keburu berpikiran negatif dan menghakimi mereka dengan pikirkan kamu, lalu kamu marah.


Itu aku dan sangat aku. Aku yang sering keburu ngejudge orang dan marah-marah. Marah-marah sampe capek sendiri. Pas orangnya datang dan ngejelasin apa yang terjadi, aku menyesal telah marah. Atau kadang aku yang berada di posisi itu dan langsung sadar lalu menyesal.


Dari ini pelajarannya adalah husnuzzan, berprasangka baik. Dengan berprasangka baik kita sudah menenangkan diri sendiri dan gak capek buang-buang energi untuk bete dan marah. Terlepas dari prasangka baik kita benar atau salah. Gak ada ruginya kan?

Kegalauan Karena Usia?

Kamis, 14 September 2017

 Dalam ilmu kedokteran, masa remaja berakhir pada usia 20 tahun dan setelah itu seseorang dikatakan dewasa. Dewasa menurut KBBI adalah sampai umur atau akil balig.

Yang aku tau, dewasa bisa dalam banyak aspek. Salah tiganya adalah usia, sikap, dan kemandirian. Secara usia, dewasa dapat diklaim saat seseorang sudah berumur lebih dari 20 tahun. Berdasarkan sikap, dewasa diklaim dengan melihat tingkah laku dan kematangan psikologis. Lalu dewasa berarti mandiri. Ini yang aku tau dan menurut aku.

Terus fa?

Ya jadi kali ini aku mau ngomongin tentang dewasa, tentang aku yang sudah melewati tahun ke-20 :”
Ada yang beda dari ucapan ulang tahun mamak buat aku satu tahun yang lalu. Bedanya adalah pada tanggal 8 Juni 2016 kemarin mamak ngucapin selamat ulang tahun pake embel embel “semoga anak mamak sudah bisa dewasa”… aku cuma bisa ber-hehe karena gak tau harus nanggepin gimana.

Setelah itu aku masih melanjutkan hidup seperti biasa sampe akhir 2016. Lalu saat ketika awal tahun 2017 aku mulai sadar kalau ternyata aku sudah tua :o ya semacam gak nyangka dan gak sadar aja udah kepala dua. Dan aku mulai berfikir . . . . . . . .  berfikir . . . . . . . . berfikir. . . .  dan tersadar.. aku beneran udah tua…. Panic! Panic!

Sadar kalo udah jadi mahasiswa semester menuju akhir, udah punya banyak adek kelas, adek-adek di rumah udah besar besar, teman-teman SMA  udah mulai wisuda, nikah, bahkan hamil… hamil anak ke-2 .. what! Beberapa juga udah kerja dan punya penghasilan sendiri. Huffttt..

Setelah ulang tahun ke-20 juga mamak mulai sering cerita tentang masalah-masalah yang dulu gak pernah diceritain ke aku. Masalah-masalah orang dewasa, eakkk..Mmm jadi sepertinya aku memang sudah harus move on dari anggapan bahwa aku masih kecil dan punya banyak waktu untuk main-main.

Setelah sadar bahwa aku sudah hidup di dunia selama 20 tahun, dan of course itu udah cukup lama, aku yang ternyata selama ini cuek cuek bebek angsa berusaha lebih memperhatikan sekitar dan menyadarkan diri. Setelah berusaha mengamati, aku mulai merasa ketinggalan. Ibaratnya kayak pelari maraton yang larinya terlalu santai sambil ngeliatin bunga-bunga di pinggir jalan tanpa menambah kecepatan. Kenapa? Karena ternyata ada banyak orang seusia aku, lebih tua 1  atau 2 tahun atau bahkan lebih muda yang sudah mandiri dan bisa lepas dari tanggungan orang tua. Di situ aku . . . .  iri T.T

Semacam bertanya sama diri sendiri “selama ini ngapain aja sih fa?”.

Trus ada episode aku menyalahkan diri sendiri dan menyesal. Lama lama jadi kurang bersyukur akibat ngebandingin diri sama orang lain. Terus mulai lagi kepikiran ikut-ikutan pada hal yang bukan passion aku yang aku tau pada akhirnya hanya akan membebani diri sendiri karena berusaha menjadi orang lain. Hingga di suatu hari yang sendu dan malam syahdu berbintang dengan suara jangkrik, aku menemukan sebuah tulisan di tumblr dengan judul “am I left behind?”  yang isinya pas banget sama yang aku rasain. Tulisannya cukup singkat namun berhasil kembali mengingatkan apa itu hakikat hidup. Bahwa hidup bukan arena balapan dan it means gak ada istilah ketinggalan.

Aku merasa ketinggalan disini karena aspek dewasa yang aku ambil adalah mandiri atau lepas dari ortu. Kenapa aku lebih concern ke mandiri? Karena aku anak pertama dan punya banyak adek. Aku berharap bisa cepat lepas dari tanggungan ortu dan meringankan mereka. Walaupun aku yakin yang dimaksud mamak bukan ini. Meskipun aku gak pernah nanya, tapi aku yakin yang dimaksud mamak adalah dewasa dalam berfikir dan bersikap. Sotoy sih, tapi aku yakin bener kok hahaha..

Nah untuk usia memang setiap anak akan menjadi remaja lalu dewasa dst. Namun untuk pola pikir, sikap, dan kemandirian belum tentu. Itu loh yang bedanya pertumbuhan sama perkembangan. Pola pikir, sikap, dan kemandirian itu kita sendiri yang menentukan apakah kita ingin berkembang atau statis. Kita yang mengambil pelajaran dan meng-implementasi-kan. Kita yang berusaha dan bekerja mencari uang.

Pola pikir dan sikap dapat kita rapikan dengan banyak membaca, mendengar, memperhatikan sekitar, mencoba, mengambil pelajaran, memperbaiki dsb.

Berusaha dan bekerja mencari uang juga kita yang rencanakan, kita mau menjadi siapa? Melewati jalan apa? Berapa lama? dst. Jika sudah terencana, jangan terusik dengan rumput tetangga yang hijau dan tumbuh dengan cepat, karna kita sedang mengembangkan bibit rumput yang akan lebih hijau meski memerlukan waktu yang lebih lama. Atau untuk apa iri dengan rumput tetangga karena toh kita ingin menanam bunga.

Fokus dan jalan terus !

Intinya adalah pada usia ini aku kamu pasti mulai aware bahwa kita harus terus berkembang dan gak selamanya akan selalu di bawah tanggungan orang tua. Ini siklus, jadi pada saatnya kita yang akan menjadi seperti mereka. Mungkin dulunya masih sering main-main tapi sekarang harus lebih banyak petimbangan untuk apapun yang dilakukan. Harus mulai merencanakan berbagai hal untuk tahap selanjutnya. Mungkin memang masih labil dan semangat yang naik turun. Tapi tak apa, namanya juga manusia, namanya juga proses.

Semangat !


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS